SEKOLAH PRANIKAH, PENTING ENGGAK SIH?

Menikah dan berumah tangga adalah satu fase kehidupan yang banyak dijalani manusia. Namun dalam ajaran Islam, kedudukan dan hukum menikah bisa sunnah hingga wajib. Islam mengajarkan kepada umatnya untuk tidak tergesa-gesa dalam segala tindakannya, namun harus direncanakan matang dan cermat, termasuk dalam hal menikah.

Menikah seperti terlihat mudah, apalagi pernikahan yang islami dan syar'i sesuai syariat, tetapi sebenarnya urusan ini cukup pelik dan menuntut perhatian  dan persiapan yang matang. Sebelum memasuki jenjang pernikahan islami diperlukan  bekal yang cukup, baik yang bersifat materi maupun non materi. Salah satu bekal non materi yaitu ilmu tentang pernikahan dan rumah tangga yang akan dijalani.

Membangun rumah tangga dapat diibaratkan dengan mendirikan sebuah rumah tinggal. Untuk  membangun sebuah rumah dibutuhkan perencanaan matang dan teliti mulai dari pemilihan lokasi, bentuk bangunan, material yang digunakan, estimasi anggaran, sampai rincian lainnya.

Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar rumah yang dihasilkan adalah bangunan yang kokoh dan bagus. Jika membangun rumah yang notabene adalah untuk tujuan dan dihuni dunia saja diperlu perencanaan yang baik dan matang, maka untuk membangun rumah tangga tentunya akan lebih membutuhkan persiapan yang benar-benar matang dan terencana. Karena rumah tangga ini harapannya tidak hanya untuk tujuan dunia tetapi juga di akhirat kelak,sehingga sukses dunia akhirat bisa terwujud.

Alasan itu pula yang membuat Rubiati Ningsih (23) untuk mengikuti sebuah kajian yang khusus membahas tentang pernikahan yang disebut sekolah pranikah. Seperti analogi di atas, menurut Ningsih, demikian ia akrab dipanggil,  untuk membentuk rumah tangga yang kokoh sesuai dengan tujuan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah (samara) adalah dengan mempunyai bekal yang cukup tentang pengetahuan tentang ilmu pernikahan dan rumah tangga.  Sebab, banyak kasus kandasnya rumah tangga di tengah jalan meski baru seumur jagung karena tidak mampu menyelesaikan masalah akibat tak mempunyai ilmu.

“Semua ada ilmunya termasuk masalah rumah tangga untuk itu ada baiknya sebelum mengalami harus dipelajari ilmunya. Setiap orang tentunya mengidamkan sebuah rumah tanggal yang awet dan bahagia baik di dunia dan membawa kebahagian di akhirat,”jelasnya.

Untuk mendapat ilmu itu, ia mengikuti sekolah pranikah yang diselenggarakan secara intensif oleh Yayasan Masjid Salman ITB. Meski harus mengikuti selama dua bulan berturut, ia tak merasa jenuh dan bosan. Ningsih menyadari bahwa saat ini ilmu pernikahan bisa dipelajari lewat buku atau media online. Namun dengan mengikuti secara tatap muka baginya lebih berkesan karena ada tanya jawab secara interaktif.

Sementara jika hanya lewat buku atau media lainnya bersifat satu arah. Selain itu, menurutnya pentingnya ikut sekolah pra nikah tersebut karena ilmu pernikahan dan rumah tangga tidak di ajarkan dibangku sekolah termasuk saat kuliah. Padahal, pernikahan tidak semudah atau justru tidak sesulit yang dibayangkan.

Setelah mengikuti sekolah tersebut, Ningsih mangaku wawasan dan paradigma tentang pernikahan serta bagaimana kehidupan rumah tangga dijalani kelak menjadi lebih terbuka, jelas dan utuh. Ada banyak hal yang ia dapatkan selama mengikuti sekolah tersebut, baik secara fiqih, kesehatan termasuk ekonomi. Selain pengetahuan akan adanya riak-riak rumah tangga yang umum terjadi juga kiat atau solusi jika permasalahan timbul. Untuk itu, dengan berbekal ilmu pernikahan yang telah didapat dan pelajari tersebut Ningsih siap menjalani pernikahan islami bersama pria idaman dan pilihannya.

“Insya Allah tahun ini (menikah), mohon doanya,”ujarnya dengan sedikit tersipu.

Beri manfaat

Manfaat pendidikan pranikah bagi calon pasangan memang sangat besar. Tak heran bila kehadiran sekolah ini mendapat respon positif dan apresiasi dari beberapa pihak.  Konselor keluarga yang juga mantan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar KH.Miftah Faridl, mengaskan pembekalan calon pengantin khususnya bekal spiritual sangatlah penting. Kenapa penting?

Calon pengantin, kata Miftah, harus tahu bagaimana bersikap dan bertutur kata dengan pasangan kelak. Karena bekal pendidikan tinggi saja tidak atau belum cukup menjadi jaminan rumah tangganya akan aman dan lancar saja. Mengingat ilmu rumah tangga tidak diajarkan di bangku pendidikan dari tingkat dasar hingga tinggi sekalipun, adanya sekolah pranikah diharapkan dapat menjawab kebutuhan ummat dan menjadi wadah calon pengantin untuk menimba ilmu pernikahan.

“Karena dalam kenyataan masih banyak suami atau istri yang belum tahu akan hak dan kewajibannya masing-masing. Misalnya ada suami yang suka mengucapkan kata “cerai” jika sedang marah atau bertengkar. Padahal itu dilakukan secara terus menerus dalam keadaan sadar bisa jatuh thalaq. Ini dianggap hal yang sepele atau dianggap tidak akan mempunyai dampak hukum khususnya secara syariat Islam,” jelas Guru Besar Humaniora ITB ini.

Miftah mengaku sudah sejak tahun 1970-an melakukan tausyiah tentang pentingnya pengetahuan tentang ilmu pernikahan dan problematika kehidupan rumah tangga, meski baru sebatas kajian temporer. Menurutnya, jika saat ini telah berkembang dan menjadi kajian intensif dalam bentuk sekolah pranikah tentu merupakan hal yang sangat baik.

Artis yang juga ustazdah Astri Ivo berpendapat senada dengan Miftah. Kursus atau sekolah pranikah penting untuk diikuti oleh para calon pengantin karena masih banyak yang belum paham tentang hakikat menikah dan berumahtangga. Selain itu, banyak orang tua yang tidak menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi orang tua (suami-istri). Justru lebih banyak orang tua menyiapkan anaknya menjadi dokter, tenaga ahli hingga bidang sukses lainnya sehingga rela menyekolahkan dengan biaya mahal. Sementara bagaimana menjadi orang tua tak pernah diajarkan atau ditularkan.

“Menurut saya menikah bukan hanya berhenti diijab qabul dan kita mempunyai pasangan dengan disebut suami atau istri. Akan tetapi menikah adalah permulaan atau langkah awal untuk memasuki kehidupan baru dan panjang,mengapa, karena lebih dari setengah dari hidup kita dihabiskan bersama pasangan. Untuk itu betapa pentingnya mempunyai bekal dalam mengarungi bahtera tersebut termasuk dengan ilmu rumah tangga,”ungkapnya.

Cegah Perceraian  

Selain memberikan bekal ilmu bagi calon pasangan, kehadiran kursus dan sekolah pranikah juga diharapkan dapat menekan tingginya angka perceraian di Tanah Air.  Data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI tahun 2010 melansir bahwa selama 2005 sampai 2010, sekitar 100 ribu pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan.

Tahun 2012 Kementerian Agama (Kemenag) mencatat setiap tahunnya telah terjadi 212 ribu kasus perceraian di Indonesia. Angka tersebut terus meningkat bahkan di tahun 2013 angka perceraian di Indonesia cukup tinggi yakni 333 ribu per tahunnya. Sesuai data yang ada, rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan perceraian di pengadilan.Kebanyakan perceraian terjadi di usia rumah tangga muda yakni di bawah 5 tahun.

Data  perceraian di Indonesia ini tentu sangat memprihatinkan dan menjadi hal serius untuk disikapi serta dicari solusi untuk mengurangi atau mencegahnya. Bagaimanapun keluarga merupakan pendidikan pertama bagi anak untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian, etika, dan moral bagi generasi penerus keluarga,bangsa dan agama.

 

Kabid Urais dan Binsyar Kanwil Kemenag Jabar, Dr.H.A.Sukandar,M.Ag yang mengungkapkan bahwa di Jawa Barat sendiri ada 500 ribu peristiwa nikah setiap tahunnya. Namun yang menyedihkan dan memprihatinkan menurut data pihaknya ada sekira 5 persen lebih terjadi perceraian dari angka tersebut. Bahkan perceraian tersebut terjadi hanya dalam hitungan bulan usai pasangan menikah.

“Saya berpendapat ada banyak faktor penyebab meningkatnya kasus perceraian di Indonesia. Selain karena masalah sudah sangat berat atau kritis, juga bisa jadi minimnya ilmu tentang pernikahan sehingga setiap ada masalah tidak mampu menyelesaikan atau  mencari solusi meski hanya masalah sepele,” duganya.

Selain itu, tambahnya, minimnya ilmu tentang keluarga akan membuat pasangan mudah atau tidak tahan goncangan rumah tangga. Padahal ketahanan keluarga  yang harmonis akan sangat menentukan kondisi masyarakat yang kondusif sehingga berdampak pula pada kondisi bangsa  secara umum.

Untuk menekan kasus perceraian, kata Sukandar, salah satu program pemerintah melalui  Kemenag adalah mengadakan Kursus Calon Pengantin (Suscatin) dengan menunjuk Kantor Urusan Agama (KUA) sebagai lembaga pelaksananya.  Materi kursus ini diberikan selama 24 jam pelajaran, meliputi tata-cara dan prosedur perkawinan, pengetahuan agama, peraturan perundang-undangan di bidang perkawinan dan keluarga, hak dan kewajiban suami istri, kesehatan reproduksi, manajemen keluarga dan psikologi perkawinan dan keluarga.

“Namun terkadang masyarakat sendiri yang mengabaikan atau menganggap sepele kegiatan tersebut yakni dengan tidak ikut kursus dengan berbagai alasan. Padahal, tujuannya baik dan sangat bermanfaat bagi keduanya untuk masa depan,”jelasnya.

Sukandar sangat setuju dan mendukung penuh diselenggarakannya sekolah pranikah atau kajian tentang ilmu menikah dan problematika rumah tangga oleh berbagai kalangan. Harapannya, peserta bukan hanya sekedar mendapat sertifikat semata, namun urgensinya mengikuti sekolah tersebut untuk mendapatkan ilmu dan wawasan tentang pernikahan.

“Kita memberi apreasiasi yang positif kepada para penyelenggara. Sekolah pranikah itu bagus, Kemenag sendiri juga ada kursus semacam itu, pembinaan kepada para remaja pesertanya perwakilan daerah-daerah. Semoga mereka bisa menjadi duta di daerah atau menularkan kepada yang lainnya,”akunya.

Ia mengisyaratkan, kursus atau sekolah pranikah  mungkin saja dapat dijadikan sebagai salah satu syarat pernikahan. Pihaknya juga berharap, kegiatan kajian atau sekolah pranikah lebih disosialisasikan kepada masyarakat luas, khususnya para calon pengantin. Ia juga memandang perlunya koordinasi antara penyelenggara sekolah pranikah  dengan instansi terkait agar tidak terjadi program yang tumpang tindih, sehingga terkesan kurang efektif, seperti peserta yang mempunyai sertifikat ganda, baik dari Suscatin maupun Sekolah pranikah.

“Kalau sekedar menikah dan mempunyai surat nikah itu gampang, malah kadang bisa di perjualibelikan oleh oknum. Akan tetapi mempunyai ilmu dan pengetahuan tentang rumah tangga sebelum menikah adalah sangat penting, karena menikah adalah salah satu bentuk ibadah maka yang namanya ibadah perlu ilmu sehingga tidak salah,”pesannya.

Bukti kesungguhan

 

Menyoal pendidikan pranikah, Astri menyarankan kepada setiap calon pasangan yang akan menikah sebaiknya untuk mengikutinya. Karena menurutnya, membekali diri dengan ilmu tentang rumah tangga adalah salah satu bentuk kesungguhan dan keseriusan dalam mempersiapkan diri.

“Secara pribadi, saya setuju kalau calon pengantin sebelum menikah harus punya sertifikat telah ikut kursus atau sekolah pranikah. Dalam Islam memang harus begitu. Bandingkan dengan agama lain yang untuk menikah saja mereka harus mempunyai sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga mereka. Hal ini sebagai salah satu bentuk atau upaya serius dan kesungguhan bagi calon pengantin bahwa menikah itu perlu bekal dan persiapan termasuk ilmu rumah tangga, bukan coba-coba atau main-main. Keluarga yang sakinah, mawadah warahmah itu tidak tiba-tiba terjadi tetapi melalui proses. Nah, salah satu proses situ ya belajar atau menyiapkan diri,” jelasnya.

Oleh karena itu, Astri menambahkan menikah harus dilandasi niat yang kuat yakni untuk ibadah. Setiap calon pengantin yang memiliki niat yang benar dan lurus diharapkan lebih kuat dan kokoh serta tidak mudah diguncang badai bahtera rumah tangga. Setiap orang yang ingin menikah, kata Astri, perlu menata ulang niat perkawinan yang dimiliki, yakni menjadikannya sebagai lahan ibadah kepada Allah dan sarana menjalani silaturahmi, atau saling memahami agar menjadi keluarga bahagia dunia akhirat.

 

Tingginya angka perceraian di Indonesia, dinilai Astri akibat kurangnya bekal spiritual dan tidak mempunyai pemahaman yang cukup tentang hakikat pernikahan yang sesungguhnya. Sehingga, pasangan suami istri mudah tergoda atau tidak tahan terhadap problematika rumah tangga termasuk masalah komunikasi dan saling memahami. Salah satu contoh dari pengalamanannya selama puluhan tahun menjadi konselor keluarga, dirinya lebih banyak mendapat pertanyaan dari kaum istri yang mengeluh tentang suaminya. Namun setelah diteliti lebih lanjut, ternyata kesalahan tidak hanya dari pihak suami tapi juga dari pihak istri.

“Terkadang persoalan rumah tangga yang sepele saja harus berlarut-larut penyelesaiaannya atau ada yang memudahkan perceraian, sehingga ketika terjadi ketidakcocokan solusinya langsung berpisah. Padahal, banyak solusi yang belum pernah ditempuh. Ini yang harus dihindari,” tambahnya.

Menurut Astri, keharmonisan dalam keluarga akan berdampak luas baik bagi masyarakat, bangsa negara dan agama. Jika keluarga gagal membentuk anak-anak atau generasi penerus, maka dampak kerusakannya juga luas. Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak, dimana orang tuanyanya adalah guru pertama mereka. Oleh karena itu, para calon orang tua harus menyiapkan bekalnya.

 

paket pernikahan islami

Bagikan :